Susah Tidur? Pahami Jenis-Jenis Insomnia Berikut

Insomnia sendiri merupakan keadaan susah tidur atau tidur yang tidak nyenyak dan berkelanjutan.
likaa horan
Jenis-jenis insomnia/Pixabay Sammy-Sander

Kaditanews.com -Insomnia sering kali disebut-sebut bagi orang-orang bermasalah pada jam tidur malamnya. 

Insomnia atau masalah susah tidur ini sering kali dialami beberapa orang tua, orang dewasa, bahkan remaja. 

Tidak jarang pada jaman sekarang, remaja pun memiliki masalah susah tidur dan sering menyebutnya dengan insomnia. 

Insomnia sendiri merupakan keadaan susah tidur atau tidur yang tidak nyenyak dan berkelanjutan. 

Tidak jarang keadaan insomnia ini terjadi akibat kebiasaan kurang tidur, fokus yang berlarut-larut, anxiety (kecemasan), stres, depresi, bahkan karena penyakit kronis. 

Insomnia ini biasanya ditunjukan dengan beberapa gejala, diantaranya bangun tengah malam, bangun terlalu pagi, susah tidur malam hari, hingga selalu merasa lelah. 

Kelainan insomnia ini juga ditandai dengan kesulitan fokus atau berkonsentrasi, mudah marah, mengantuk di siang hari, hingga kekhawatiran yang berkelanjutan. 

Dilansir dari The Healthy pada Selasa 8 Februari 2022, kenali beberapa jenis insomnia. 

1. Insomnia Jangka Pendek (Ringan) 

Insomnia ini biasanya dipicu karena peristiwa besar yang akan atau sudah terjadi, hingga membuat sulit tidur. 

Misalnya karena kehilangan orang yang dicintai, stres karena sedang adaptasi dengan pekerjaan baru, dan beberapa peristiwa lainnya. 

Biasanya insomnia jenis ini hanya berlangsung 3 bulan, dengan pola tidur yang tidak beraturan. 

Untuk perawatannya, menurut James A. Rowley, MD, kepala sementara di the division of pulmonary, critical care & sleep medicine di The Detroit Medical Center, biasanya insomnia ini sembuh dengan sendirinya. 

Namun, tidak menutup kemungkinan insomnia ini juga memerlukan pengobatan. 

Seperti dosis rendah obat penenang yang dapat diresepkan untuk satu hingga dua minggu. 

2. Insomnia Kronis 

Insomnia jenis ini biasanya memiliki pola tidur yang setidaknya tiga malam dalam seminggu selama tiga bulan. 

Penyebab insomnia kronis ini tidak dapat dipastikan, namun biasanya disebabkan oleh stres, kebiasaan tidur yang buruk, terlalu banyak kafein, nikotin, atau alkohol, bahkan bisa jhga karena masalah kesehatan mental. 

Perawatan insomnia kronis ini biasanya dengan terapi. 

Menurut James A. Rowley, MD, terapi terbaik untuk insomnia ini adalah Cognitive Behavioral Theraphy (CBT) atau terapi kebiasaan kognitif. 

Terapi ini mengajarkan pasien untuk dapat kembali tidur dengan normal. 

3. Insomnia Komorbid 

Insomnia ini dikenal juga sebagai insomnia sekunder. 

Menurut National Sleep Foundation, insomnia komorbid ini disebabkan karena penyakit medis atau penyakit psikiatri seperti anxiety, depresi, penyalahgunaan zat, penyakit neurologis, atau penyakit medis lainnya. 

Biasanya insomnia komorbid ini diobati langsung oleh dokter untuk meningkatkan hasil dari kondisi primer dan mencegah kekambuhan. 

4. Insomnia Psikofiologis 

Meskipun ada beberapa subtipe insomnia kronis, yang paling umum adalah insomnia psikofisiologis. 

Insomnia ini biasanya ditandai dengan rasa mengantuk, tetapi saat akan bersiap tidur si pengidap insomnia ini malah berjuang untuk tidur. 

“Ketika pasien naik ke tempat tidur, mereka sering berguling-guling dan sering melihat jam dan mencoba memaksa diri mereka untuk tidur, yang secara paradoks memperburuk insomnia mereka," jelas James A. Rowley, MD. 

Orang dengan tipe ini sering mengalami kebiasaan tidur yang buruk seperti menonton TV, melihat Hp atau membaca di tempat tidur, dan mungkin mulai memiliki perasaan stres di siang hari tentang tidurnya karena khawatir akan tidur. 

5. Onset Insomnia 

Insomnia onset adalah salah satu cara insomnia psikofisiologis bermanifestasi, yang ditandai dengan kesulitan tidur di awal malam. 

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sleep Medicine, insomnia onset ini disebabkan oleh sindrom apnea-hipopnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea-hypopnea syndrome), dan beberapa penyakit atau sindrom lainnya. 

Meski kebanyakan pada akhirnya orang-orang dengan insomnia onset ini tertidur, namun efeknya bisa sangat luas. 

Dari mudah berubahnya suasana hati, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga depresi. 

Perawatan insomnia ini bisa dilakukan dengan perawatan umum, termasuk alat bantu tidur farmakologis, alat bantu tidur yang dijual bebas, behavioral theraphy, dan terapi homeopati atau alternatif. 

Itulah beberapa jenis insomnia yang perlu diketahui, masing-masing insomnia memiliki sebab, akibat, dan perawatannya yang harus di perhatikan. (KN)
Komentar